03.03.07
“kejar!” vs “ya udah deh,,” babak 2-tamat
6 hari sejak entry ” ‘kejar!’ vs ‘ya udah deh’ ” ,,
24 feedback dari temen2,,
2 jam saya bikin entry balesan,, heuheuheu
it’s easy to choose,
when all you want is just-another-relationship slash worth-to-try slash instead-of-single slash scoring points (A)
it’s not easy to choose,
when all you want is a proper relationship (B)
*and what is proper, anyway?* wahaha..jadi entry panjang lain lagi nih ntar, heuheu..
well, let see the condition..
first, untuk option pertama, pake perumpamaan X. Sebelumnya, eliminasi variabel2 yang obviously nggak banget (meski nggak menutup kemungkinan sih. hehe) seperti preman pasar (in Mar comment), psycho guy (a big No!), etc..
jadi X dikondisikan sbg seseorang yang baik hati dan tidak somse!
for me, X is fun to be with!
lalu untuk option kedua, pake perumpaan Y, eliminasi variabel2 yang bikin ilfeel, hehe.. apa yah? tukang tebar pesona, narsis, has a ‘reputation’ when it comes to girls, dan semua sifat yang serba dia-pikir-dia-the best lah, huehuehue..
jadi Y adalah seseorang dgn segala karakter yang masing2 pembaca punya sendiri tentunya, plus dia ini menganggap kita sebagai teman baik, nice to be with, that’s all.
for me, i think i have something special!
sedangkan untuk kejar, yes, eliminasi flirting yang nggak banget ituh, buang jauh2 pikiran tentang menghujani dia dgn sms dan telepon 24/7 non-stop, pertanyaan basa-basi basi macem ‘udah makan belom?”,, Tapi subsitusi dengan stay friend ajah, sambil terus berharap tentunyah,, ;p Yah, setidaknya ini buat takaran cewek, tapi buat temen2 cowok mungkin lebih berinisiatif yah, ha2.
okay, got it? he? yak, let’s work on it:
- if pilih X and A,
nggak akan pilih A, buat apah? it’s something more to relationship than scoring points. - if pilih X and B,
aman2.. X will always love me dengan segala kelebihan & kekurangan sayah. Tapi hati kecil saya takut, if I meet someone so called a better person, bukan nggak mungkin dengan mudah akan berpaling. Kecuali pada akhirnya kita juga punya something special, ini nggak adil banget buat si B,, it’s just not fair! - if pilih Y and A,
ya enggaklaaahh kalo sama Y, pasti maunya B!!!
jadi langsung ke option berikutnya… - if pilih Y and B,
bisa terjadi 2 kondisi lagi:
(1) Y akhirnya fallen at my feet *ha2, kuasa banget ya bahasanya?!*
yippey, live happly ever after!
(2) 2 pilihan utama yang saya bahas di blog ini jadi berbalik terjadi pada si Y, yang mana si Y memilih kita dengan kondisi X&B ~.~ .
okey, senang2 sih senang, tapi gimana kalo ketakutan di X&B yang saya takutin berbalik dgn X sebagai subjek? So if X meets someone better, will X leave me? Ataupun kalau sama sekali tertutup kemungkinan buruk ituh, mungkin kita jadi memiliki sedikit rasa kurang puas pada diri kita,,
heuheu.. anyway, kalo temen2 perhatiin ilustrasi di atas jadi seperti rekayasa program yang bisa kita set sedimikian rupa kondisinya, berikut memperkirakan akibatnya. Jadi,, ‘ah, teoriiii’ gituuh.. Well, pesannya adalah, there’s no such thing like that in the real world, it’s only a matter of felling, dengan catatan if you honest with yourself
sebetulnya, setelah sayah liat2 lagi kondisi di atas, setelah menghilangkan semua variabel buruk, perbedaan antara X dan Y ada pada special feelingnya, iya nggak siy?!
sadar nggak sih, kalau kadang tanpa disadari kita menjadi tidak fair dalam memberikan kesempatan yang sama, baik pada diri kita sendiri maupun pada si X, bahkan pada si Y untuk getting know each other, more. Pernah saya mengira sesorang ini adalah the one that i’m lookin’ for, tapi setelah dekat dan banyak ngobrol bareng, ternyata dia tuh ya segitu-doank. Atau sebaliknya, orang yang saya rasa nggak mungkin ada perasaan lebih, setelah saya benar2 dekat dengan dia, ternyata perasaan special itu muncul! Atau pernah sebaliknya, justru kita yang tidak mendapatkan fair chance ituh, saya mengira orang ini sangat habaat, tapi stlh kita sadari kesan hebat ituh banyak kita dapat dr referensi pihak lain, atau kita baru bertemu dengan dia sesekali pandang. Tanpa kita sadari, rasa kagum terbentuk karena dia bagi kita adalah seseorang yang kita kagumi, out of reach gitu lah ya. Padahal, kalau kita sudah kenal betul, bukan tidak mungkin level feeling kita jadi menurun, ternyata dia nggak seheboh yang kita kira, atau ternyata dia tuh segitu-doank.. Nah kan,,who knows?!
setelah benar2 mengenal, seperti komentar temen2, kita pastikan perasaan orang ituh,, apapun hasilnya, face it! however perasaan kan nggak bisa dipaksain, and yes, bahwa esensi dari happy adalah making others happy as well! hi2,, mungkin setelah ini style menyatakan cinta akan berubah menjadi:
“i’d like you to know that you always make me happy,,
and i wanna be happy like this ’till the rest of my life,,
do you feel the same?”
*so suuuiiit!!!*
jadi,, he2 udah menjawab persoalan blm sih? he,,,
ya ituh, simply dengan jujur sama diri sendiri dan memberikan fair chance buat diri kita, dan orang lain ![]()
isn’t simple, eh?
endaaaaaaaaaaaaaaakkk!!!!!!!!!
heuheuehu…
p.s. : eh2, entry ini enak dibaca & dikomentari *jangan lupaa, he2* sambil denger Where Are You-nya J.Roman feat Saluna ^^